Saturday, 24 May 2008

Protein Siput Untuk Obat Nyeri

Conus geographus, siput beracun yang banyak dijumpai di bawah laut tropis khususnya Indonesia dan philiphina. Racun yang dikeluarkan berupa ratusan polipeptida toksik yang digunakan untuk membunuh ikan yang akan dimakan, mengingat binatang ini bersifat karnifora. Salah satu polipeptidnya yang bernama omega-conotoxin MVIIA telah di setujui oleh FDA (Food and Drug Administration) Amerika untuk obat nyeri pada pasien kanker, AIDS dan ganguan syaraf tertentu.

Obat ini di produksi oleh Elan Corporation dengan nama dagang prialt (ziconotide intratechal infusion) dan tercatat sebagai obat pertama yang dikode oleh gene invertebrata dipakai di klinik. Omega-conotoxin MVIIA dapat menghambat transportasi kalsiun di dalam sel saraf yang akan menghantarkan sinyal rasaya nyeri. Di samping juga dari hasil percobaan bahwa senyawa ini memiliki kemampuan penghilang rasa sakit seribu kali lebih ampuh di banding morphine. Salah satu keunggulannya adalah senyawa peptida ini mirip dengan neuropeptida sehingga akan terhindar dari ketergantungan/ketagihan akan obat tersebut.

Senyawa obat ini buah dari penelitian Dr Baldomero M. Olivera, warga Negara philipina yang sekrang bekerja di universitas Utah, Amerika serikat. Pada 1970, Dr olivera berkeinginan melakukan penelitian di philipina, karena tidak memiliki fasilitas di laboratoriumnya akhirnya menentukan pilihan meneliti siput beracun jenis Conus geographus. Namun berkat kerja keras dan ketekunannaya akhirnya penelitiannya membuahkan hasil yang cukup gemilang dan membantu para penderita nyeri yang banyak dialami oleh manusia dengan berbagai sebab.

Ini memberikan teladan bagi para peneliti di Negara-negara yang tidak cukup memeiliki banyak dana penelitian, seperti Indonesia untuk menirustrategi dan usaha kerasnya dalam meneliti.

Sampai saat ini Dr olivera telah berhasil memurnikan 150 peptida dari venom tersebut dan telah mengetahui urutan asam amino lebih dari 2000 jenis peptida racun yang dihasilkan oleh conus/siput laut. Peptida-peptida yang dihasilkan oleh siput ini umumnya memiliki panjang 12 sampai 35 asam amino dan memiliki daya ikat spesifik ke permukaan sel atau reseptornya. Sehingga bekerjanya senyawa tersebut bersifat spesifik sehingga sangat cocok untuk obat. Keunggulan lain senyawa ini adalah sangat cepat beraksi didalam sel serta sangat gampang untuk memproduksinya.

Selain Omega-conotoxin MVIIA, masih ada beberapa senyawa lain yang telah di ujicobakan pada pasien diantaranya Contulakin-G yang bisa di gunakan untuk mengobati epilepsy. Mengingat ada sekitar lebih dari 500 spesies dari siput ini, dan jika masing-masing siput memiliki 50-200 senyawa aktif maka dapat diperkirakan masih ada lebih dari 50000 jenis senyawa aktif yang perpotensi untuk obat-obatan yang belum terungkap.

Indonesia yang kaya laut dan kaya invertebrata-nya termasuk spesies conus tersebut, maka penemuan tersebut membuka peluang besar untuk peneliti Indonesia mengali potensi alamnya untuk penemuan obat baru dan pada akhirya akan mendatangkan devisa dan kemakmuran masyarakat.Widodo, Tsukuba University

sumber : beritaiptek

MENCERMATI KOMPOSISI OBAT INFLUENZA

Influenza atau biasa dikenal dengan flu merupakan penyakit yang seringkali diderita oleh kita. Diperkirakan setiap orang paling tidak mengalami penyakit itu 12 kali dalam setahun.biasanya pada musim dingin. Flu menyerang seseorang yang berada dalam kondisi lemah sehingga mengganggu pembentukan antibodi tubuh yang merupakan benteng pertahanan terhadap penyakit.

Influenza atau biasa dikenal dengan flu merupakan penyakit yang seringkali diderita oleh kita. Diperkirakan setiap orang paling tidak mengalami penyakit itu 12 kali dalam setahun.biasanya pada musim dingin. Flu menyerang seseorang yang berada dalam kondisi lemah sehingga mengganggu pembentukan antibodi tubuh yang merupakan benteng pertahanan terhadap penyakit.

Penyakit ini dapat sangat mengganggu aktivitas. Perlu Anda ketahui bahwa penyakit ini sangat mudah menular. Penularannya biasa terjadi melalui udara. Jadi, jika ada teman Anda terkena flu, untuk mengurangi kemungkinan penularannya, maka menjauhlah. Atau pikirkanlah untuk menggunakan masker: Anda yang menggunakan atau teman penderita flu tersebut yang menggunakannya.

Pada umumnya penyakit flu menyerang seseorang secara perlahan. Satu atau dua hari setelah terinfeksi oleh virus maka Anda akan merasakan gejala yang sangat mengganggu.
Sewaktu terkena flu, tindakan spontan adalah mencari obat flu. Patut dicermati, apakah obat yang Anda gunakan memang efektif untuk mengatasi influenza?

TIDAK PERLU ANTIBIOTIK

Flu merupakan penyakit yang pada dasarnya merupakan gangguan pada saluran napas, yang disebabkan oleh virus. Berdasarkan penyebabnya, sebenarnya penyakit ini bisa hilang dengan sendirinya (self limmitted disease), bergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang. Jika Anda sedang berada dalam kondisi lelah, dan daya tahan tubuh menurun, maka dengan mudah Anda akan terkena flu.

Yang dikhawatirkan adalah terjadinya infeksi sekunder, pada daerah telinga tengah dan sinus, atau mungkin juga terjadi gangguan pada otak. Satu hal yang perlu Anda perhatikan adalah bahwa penyakit ini disebabkan oleh virus, sehingga Anda tidak perlu mengkonsumsi antibiotik. Kecuali telah terjadi infeksi sekunder dan dokter menyuruh Anda meminum antibiotik.
Influenza merupakan gangguan pada sistem pernapasan. Karena sistem pernapasan juga berhubungan dengan organ lain dalam tubuh, maka akan muncul pula gangguan lain, semisal gangguan pada sistem keseimbangan atau pendengaran. Bila terjadi infeksi sekunder bisa mengakibatkan ganguan dalam berbicara. Selain itu yang berbahaya bisa pula berkomplikasi ke otak Anda.

Sedangkan dalam perkembangannya penyakit itu bisa bermanifestasi dalam berbagai hal semisal demam, sakit kepala, batuk, hidung tersumbat, tenggorokan gatal, dan rasa tidak nyaman diseluruh tubuh. Beberapa obat influenza yang terdapat di pasaran biasanya ditujukan untuk mengatasi gejala yang muncul tersebut.

Pada umumnya obat flu yang beredar di pasaran (baik obat bebas atau bebas terbatas) memiliki komposisi yang hampir sama, yaitu : analgetik/antipiretik (penghilang demam atau nyeri yang mengganggu), obat batuk, antihistamin, pelega hidung yang tersumbat (Dekongestan), dan zat tambahan lain.

Anda tak perlu ragu membeli obat bebas karena aman. Kecuali obat palsu. Soalnya, tak sembarang produk farmasi bisa lolos di pasaran sebagai obat bebas. Cuma, Anda patut tahu apa saja isinya dan efek sampingnya.

Antipiretik/Analgetik

Sesuai dengan namanya antipiretik (penghilang demam) dan analgetik (penghilang rasa sakit), maka zat aktif ini berguna untuk menurunkan panas, menghilangkan pusing yang biasanya menyertai penyakit influenza. Zat aktifnya merupakan zat golongan AINS (antiinflamasi nonstroreid), yang biasa digunakan adalah parasetamol, asetosal. Mekanisme kerjanya adalah dengan cara menekan prostaglandin, semacam zat yang dikeluarkan oleh tubuh yang sedang mengalami peradangan. Prostaglandin ini yang merupakan biang keladi timbulnya panas. Dengan menekan pengeluaran prostaglandin, maka panas yang muncul bisa berkurang.
Efek samping dari zat aktif ini bermacam-macam. Antara lain, parasetamol dapat mengakibatkan gangguan pada hati. Sedangkan asetosal dapat mengakibatkan gangguan pada saluran cerna bila digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Mengatasi Batuk

Perlu Anda ketahui bahwa sesungguhnya batuk tersebut merupakan mekanisme pertahanan tubuh. Jika terdapat kotoran pada saluran pernapasan, maka daerah di saluran pernapasan akan memberikan informasi kepada otak untuk mengeluarkan kotoran tersebut. Maka terjadilah mekanisme batuk. Meskipun merupakan sebuah mekanisme perlindungan tubuh, bila terlampau sering maka tentu saja akan mengganggu kenyamanan Anda.

Obat batuk yang ada di pasaran terbagi menjadi dua golongan. Yang pertama adalah golongan pengencer lendir. Sedangkan golongan kedua bekerja pada otak untuk menghentikan perintah melakukan batuk. Zat aktif dari obat batuk yang merupakan pengencer lendir, di antaranya adalah amonium klorida, natrium sitrat, bromheksin.

Sedangkan golongan kedua yaitu penekan batuk, biasanya diberikan pada batuk yang kering dan dapat mengakibatkan nyeri pada tenggorokan.

Zat aktif yang memiliki mekanisme penekan batuk di otak diantaranya adalah gliseril guaicolat, kodein, dextrometorfan. Efek sampingnya, dapat mengakibatkan terkumpulnya lendir. Jadi, sehingga sebaiknya jangan digunakan pada penderita asma karena dapat memperparah sumbatannya.

Antihistamin

Zat aktif golongan antihistamin bekerja untuk menghambat pengeluaran histamin, yakni senyawa yang akan muncul pada kondisi dimana terjadi reaksi alergi. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan lendir keluar terus menerus dan hidung menjadi tersumbat.
Zat yang termasuk dalam glongan ini dan biasa digunakan dalam obat-obat influenza adalah prometazin dan harus diwaspadai bahwa golongan ini dapat menimbulkan rasa kantuk dan gangguan saluran cerna bila digunakan dalam kurun waktu yang lama.

Pelega Hidung Tersumbat

Disebut juga dengan dekongestan. Mekanisme kerjanya adalah dengan melakukan penyempitan pembuluh darah kecil di sekitar hidung. Pada kondisi influenza, terjadi pelebaran pada pembuluh darah kecil (kapiler) pada daerah hidung sehingga dapat mengakibatkan sumbatan. Dengan adanya penyempitan dari pembuluh darah kapiler, maka hidung dapat menjadi lega kembali.
Zat aktif yang digunakan untuk mengatasi adanya sumbatan dalam hidung adalah pseudoefedrin dan fenilpropanolamin. Perlu Anda ketahui, karena mekanisme kerjanya adalah mengakibatkan penyempitan dari pembuluh darah, maka penderita tekanan darah tinggi (hipertensi) perlu waspada menggunakannya. Sebagai alternatif, Anda bisa menggunakan inhaler yang bekerja secara lokal.

MEMILIH YANG RASIONAL

Semakin sedikit zat aktif dalam obat flu, maka komposisinya semakin rasional. Pilih obat flu yang mengandung maksimal tiga zat aktif. Misalnya mengandung analgetik/antipiretik, pereda batuk, dan pelega hidung tersumbat. Di pasaran, obat flu yang dijual bebas tersedia dalam berbagai macam komposisi. Anda bisa memilihnya sesuai dengan kondisi Anda. Selanjutnya jika Anda tidak merasakan hidung tersumbat, maka Anda tidak perlu untuk menggunakan obat yang berguna untuk melegakan hidung.

Beberapa hal yang harus Anda perhatikan dalam penyakit influenza adalah terjadinya infeksi sekunder. Artinya, gejala yang timbul sebenarnya bukan sekadar influenza biasa, melainkan merupakan manifestasi dari penyakit berat dalam diri Anda. Kondisi yang harus mendapatkan perhatian khusus adalah panas yang tidak turun meskipun telah mendapatkan obat antidemam; lendir yang berubah warna menjadi kuning atau hijau dan bertambah kental. Pada penyakit yang lebih parah, bisa terdapat darah pada lendir tersebut.

Batuk yang tidak kunjung hilang juga harus Anda perhatikan. Begitu pula dengan demam yang makin menjadi-jadi. Anda patut curiga ada sesuatu yang tak beres pada diri Anda. Selain itu perlu pula diperhatikan adanya keluhan tambahan semisal dada menjadi sakit terutama saat bernapas. Jika hal itu terjadi setelah Anda membeli obat, maka Anda harus segera berkonsultasi kepada dokter Anda untuk mendapatkan pengobatan yang lebih lanjut.

KESEMBUHAN DARI DIRI SENDIRI

Perlu Anda ketahui bahwa semua obat-obat tersebut tidak membunuh virus yang mengakibatkan influenza melainkan hanya meringankan gejala yang muncul. Selain menggunakan obat-obatan, sesungguhnya Anda dapat mengatasi penyakit ini dengan cara yang tidak terlampau rumit. Seperti beristirahat yang cukup, memperhatikan asupan makanan yang bergizi dan mengandung protein. Selain itu, hindari berada dalam ruangan dingin atau tidak meminum air dingin. Proses penyembuhan influenza yang Anda alami akan lebih cepat.

PERHATIKAN DOSIS

Seringkali Anda merasa bahwa penyakit yang Anda derita demikian berat, atau Anda merasa bahwa keluhannya tidak hilang setelah minum obat. Anda lantas merasa perlu menggunakan obat flu tersebut lebih besar dari dosis yang telah ditetapkan. Pandangan ini sangat keliru, karena perusahaan obat telah menetapkan dosis berdasarkan dosis efektif yang dibutuhkan oleh tubuh. Artinya dengan dosis tersebut maka kandungan zat aktif obat akan bekerja dengan efektif di dalam tubuh. Jadi tidak ada gunanya sama sekali kalau Anda menggunakannya melebihi dosis. Anda beruntung kalau zat aktif tersebut dapat keluar dari tubuh melalui air seni atau kotoran Anda, namun bila zat tersebut mengendap dalam tubuh, urusannya bisa berabe.
sumber : humanmedicine

PASIEN DEMAM JANGAN DISELIMUTI

Apa yang mesti dilakukan bila ada anggota keluarga Anda terserang demam? Pertama, ia harus istirahat. Menyelimutinya dengan selimut tebal - ini yang kerap terjadi - justru tidak dibenarkan. Udara tubuh yang panas malah tidak bisa menguap sehingga suhu akan tambah naik; anak-anak malah bisa kejang (stuip). Rasa dingin terjadi karena suhu tubuh sedang naik mendadak.

Tindakan paling baik ialah menyeka seluruh tubuh penderita dengan kain basah terus-menerus selama 5 - 7 menit. Dengan menguapnya air dari kulit, tubuh akan ikut didinginkan sehingga biasanya dalam jangka waktu itu suhu tubuh sudah turun. Tidak baik memakai alkohol untuk tujuan ini karena alkohol akan diserap melalui kulit. Melakukan kompres hanya di kepala juga tidak efektif karena kontak permukaan terlalu kecil. Tetapi penderita harus diberi minum banyak untuk ikut mendinginkan tubuhnya.

Demam atau panas memang gejala yang dapat berdiri sendiri atau bagian dari kumpulan gejala suatu penyakit. Demam itu suatu tanda yang penting untuk diperhatikan, karena pada awalnya sering tidak atau belum dapat diketahui penyebabnya, dan berbahaya atau tidaknya.

Bila kita demam, sebaiknya ukur suhu ketiak di termometer empat kali sehari tiap 4 - 5 jam. Suhu ini dicatat karena akan berguna untuk diperlihatkan pada dokter. Ia yang nanti akan memeriksanya dapat memperoleh kesan jenis penyakitnya dari naik-turunnya suhu badan.
Misalnya suhu pada penyakit tifus pada 3 - 4 hari pertama hanya naik malam hari; pagi hilang panasnya. Demam karena tifus hampir selalu dimulai dengan suhu yang tidak terlalu tinggi pada hari-hari permulaan. Jadi, bila suhu badan hari pertama sudah sekitar 39 - 400 disertai menggigil, hampir pasti ini bukan tifus. Tifus baru dicurigai bila demam sudah berjalan 4 - 5 hari atau lebih.

Sebaliknya, demam yang pada hari pertama sudah mendadak tinggi, biasanya disebabkan oleh penyakit akibat virus, seperti influenza atau demam berdarah. Tentu ada banyak penyakit infeksi lain yang pola suhunya mirip tifus atau infeksi virus, namun di Indonesia dapat dikatakan 90% demam yang mendadak tinggi disebabkan oleh virus. Karena itu demam yang sudah diderita lebih dari 2 - 3 hari perlu dikonsultasikan ke dokter karena perlu ditentukan penyebabnya. Di negara kita, salah satu penyebab yang sangat dikhawatirkan ialah demam berdarah, yang banyak terjadi di musim penghujan.

Bila pelbagai upaya awal untuk menurunkan demam tidak berhasil, penderita dapat diberi obat penurun panas yang juga mempunyai sifat mengurangi rasa sakit, pegal, dan sakit kepala.

Obat pilihan pertama ialah parasetamol yang dijual dengan berbagai nama dagang. Semua obat yang dijual bebas, menurut peraturan Depkes, harus memuat nama generik di bawah nama dagangnya, tercantum di bawah “kandungan”. Namun patut diingat, bila gejalanya hanya demam, tidak dibenarkan untuk menggunakan parasetamol yang dicampur dengan bahan aktif lain, misalnya untuk pilek, batuk, dsb. Tambahan bahan lain itu selain tidak dibutuhkan, juga menjadikan obat lebih mahal. Belum lagi bila menimbulkan efek sampingan, akan menjadi mubazir.

Obat lain yang juga baik ialah ibuprofen karena efektif dan aman, namun mungkin belum terkenal di masyarakat. Asetosal (dikenal sebagai aspirin) tidak dianjurkan bila tidak tahan lambungnya, karena sifat asamnya. Asetosal dalam dosis 1 tablet dewasa menyebabkan darah menjadi encer, sehingga perdarahan (seperti dalam haid atau terluka) akan sulit berhenti karena darah tidak dapat membeku. Asetosal juga tidak dianjurkan bila penyebab demam ialah virus (campak, cacar air, dsb.), terutama pada anak, karena asetosal dihubungkan dengan komplikasi fatal yang disebut Reye syndrome.

Pilihan lain yang tidak termasuk golongan obat bebas ialah asam mefenamat (kecuali yang 250 mg untuk orang dewasa) yang dikenal masyarakat sebagai Ponstan, dan dipiron (dikenal sebagai Antalgin atau Novalgin). Kedua obat ini tidak dibenarkan dibeli di toko obat atau apotek, karena harus memakai resep. Seperti diketahui, kemasan obat bebas ditandai dengan lingkaran hijau atau biru, sedangkan obat resep lingkaran merah. (Prof. dr. Iwan Darmansjah, Sp.FK)
sumber : intisari

Betulkah aspirin berbahaya

Aspirin telah lama dikenal sebagai 'obat mujarab' untuk menghilangkan rasa nyeri. Di tahun 1970an, para peneliti menemukan keuntungan aspirin untuk mencegah serangan jantung. Dari penelitian tsb ditemukan fakta ternyata aspirin dapat juga mencegah serangan jantung pertama dan kedua, stroke dan gangguan kardiovaskular lainnya.

Aspirin mengandung asam asetilsalilat atau asam asetosal. Sifat asam jenis ini adalah mengencerkan darah dan mengurangi penggumpalan darah. Tapi asam ini berbahaya bagi penderita maag serta tukak lambung karena bisa mengakibatkan iritasi pada lambung. Jadi aspirin hanya boleh diminum bila penderita sakit kepala tidak memiliki penyakit maag dan penyakit kelainan pembuluh darah.

Asam asetosal atau aspirin ini juga tidak boleh diberikan pada anak yang terkena demam berdarah karena efeknya dapat mengurangi penggumpalan darah dan dapat memperberat perdarahan pada anak.

Aspirin mengandung asam asetosal 500 mg dengan dosis maks 3000 mg per hari. Yang umum digunakan adalah 3 x 500 mg perhari untuk orang dewasa. Adapun asam asetosal 80 mg biasanya digunakan oleh dokter untuk penderita penyakit jantung.

Hingga kini telah banyak dilakukan penelitian laiinnya untuk melihat manfaat lain dari obat ini. Yang sudah ditemukan, adalah untuk melindungi seseorang dari kanker mulut, tenggorokan dan kerongkongan. Diketahui pula ternyata aspirin dapat mengurangi risiko dari serangan kanker usus besar ( kanker kolon ).

Friday, 23 May 2008

Lambung Kosong, Jangan Minum Obat Nyeri

OBAT mengurangi rasa sakit atau nyeri, digolongkan sebagai analgesik antipiretik dan analgesik antiinflamasi non steroid. Golongan obat ini dapat mengatasi rasa sakit yang sifatnya ringan sampai sedang. Misalnya, sakit kepala, sakit gigi, sakit otot (malgia), dan sakit sendi.

Namun untuk mengurangi kemungkinan iritasi saluran cerna, obat pereda sakit dianjurkan diminum sesudah makan, dan jangan sekali-kali menggunakan obat pereda nyeri dalam keadaan lambung kosong.

Sebagian dari golongan obat pereda sakit antiinflamasi, dapat menurunkan suhu tubuh yang meningkat. Namun, karena khasiat antiinflamasi, obat pereda sakit antiinflamasi hanya dianjurkan untuk menghilangkan rasa pada inflamasi, antara lain berbagai jenis radang sendi atau tulang.

Berdasarkan khasiat dan indikasi utamanya, obat pereda sakit dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Ada yang digunakan mengatasi rasa sakit/nyeri ringan sampai sedang, semacam sakit kepala, sakit gigi, nyeri hati, nyeri otot, sakit persendian dan neuralgia. Untuk mengatasi nyeri seperti itu dapat digunakan obat jenis aspirin atau asetosal, salisilamida, antalgin dan asam mefemat.

Obat pereda sakit golongan kedua biasanya digunakan untuk menurunkan suhu tubuh yang meningkat atau demam. Semua obat pereda sakit ringan dan sedang sebetulnya mempunyai khasiat antidemam. Namun untuk menurunkan demam sebaiknya digunakan parasetamol yang efek sampingnya lebih ringan, atau dapat juga dipakai aspirin.

Obat pereda sakit yang diindikasikan hanya untuk nyeri hebat akibat inflamasi, digolongkan sebagai obat analgesik antiinflamasi non steroid. Contoh obat pereda nyeri antiinflamasi non steroid itu adalah diklofenak, ibuprofen, dan ketoprolen yang biasa digunakan pada radang sendi (artritis), artritis rematoid, dan ostoeariritis. Obat pereda nyeri dari golongan ini tidak dianjurkan untuk mengatasi rasa sakit yang sifatnya ringan sampai sedang, juga tidak untuk demam, mengingat efek sampingnya.

Nyeri Suatu Peringatan

Rasa sakit atau nyeri sebenarnya merupakan suatu tanda atau peringatan yang menyatakan bahwa di bagian tubuh ada suatu masalah. Rasa sakit itu timbul karena adanya suatu rangsangan yang sampai ke reseptor rasa sakit, yang kemudian diteruskan ke pusat nyeri. Timbulnya masalah atau ketidaknormalan itu dapat karena adanya rangsangan kimiawi, rangsangan termis atau panas, toksin bakteri akibat infeksi, rangsangan mekanik seperti trauma maupun desakan jaringan tumor.

Melalui serangan reaksi, rangsangan yang mengenai sel tubuh itu akan menghasilkan suatu zat atau senyawa yang dikenal sebagai prostaglandin (PG). PG inilah yang antara lain berperan terhadap timbulnya rasa sakit atau nyeri, demam serta reaksi inflamasi.

Mekanisme kerja obat pereda nyeri antara lain mempengaruhi pusat pengatur suhu yang berada di hipotalumus. Obat ini dapat menambah pengeluaran panas bagi yang sedang menderita demam, menghambat pembentukan prostaglandin, dan meningkatkan ambang rasa sakit.

Obat pereda sakit juga mempunyai efek samping yang dapat timbul sewaktu-waktu. Yakni reaksi yang merugikan atau tidak diinginkan, akibat penggunaan obat dengan dosis yang biasanya digunakan untuk pengobatan. Semua obat dapat menyebabkan efek samping. Hanya tentu saja frekuensi, jenis dan berat ringannya dapat berbeda antara obat yang satu dengan lainnya.

Reaksi efek samping obat ini sering tidak dapat dihindari. Namun dapat diperingan dengan dosis sekecil mungkin, tapi masih tetap efektif. Tujuan pemakaiannya harus tepat, dan usahakan tidak menggunakan bermacam-macam obat sekaligus kecuali kalau memang dibutuhkan atau atas petunjuk dokter. Yang penting kenali juga kontra indikasinya.

Terjadi Iritasi

Obat pereda nyeri, dapat juga menimbulkan reaksi alergi dengan gejala gatal, merah dan iritasi saluran cerna. Untuk mengurangi kemungkinan iritasi saluran cerna, obat pereda sakit dianjurkan diminum sesudah makan, dan jangan sekali-kali menggunakan obat pereda nyeri dalam keadaan lambung kosong.

Obat pereda nyeri ini akan lebih berbahaya bila diberikan kepada penderita dengan luka di dinding lambung atau usus. Keparahan iritasi yang ditimbulkan, tentu saja dapat berbeda-beda untuk setiap obat.

Bila obat-obatan ini terlalu sering digunakan, apalagi bila dengan dosis tinggi, mungkin akan merusak fungsi ginjal atau hepar. Dan juga dapat menyebabkan gangguan darah. Obat pereda nyeri sebaiknya tidak terlalu sering digunakan, kecuali bila memang dibutuhkan. Bagi yang cukup sering memakai obat-obat pereda nyeri diharapkan sekali-kali melakukan kontrol pemeriksaan darah.

Obat pereda nyeri cukup banyak yang dijual bebas karena kebanyakan mengandung parasetamol dan asetosal. Tetapi untuk yang mengandung metamperon dan obat golongan antiinflamasi non steroid sebaiknya digunakan atas petunjuk dokter.
Penggunaan obat-obatan seperti parasetamol, antalgin, dan pereda sakit lainnya hanya merupakan, pengobatan simptomatis. Maksudnya, obat itu hanya dapat mengatasi simptom atau gejala penyakit tetapi tidak dapat mengobati penyebab penyakitnya.

Jadi, jika seseorang menderita sakit gigi karena infeksi misalnya, maka penyakitnya itu baru akan sembuh betul bila pemakaian obat pereda sakit itu disertai dengan obat antiinfeksi. Karena sifatnya hanya sebagai obat simptomatik, maka sebaiknya digunakan sesingkat mungkin. (dr B Lutfi-35)
sumber : suara merdeka

Monday, 19 May 2008

Aspirin

Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah suatu jenis obat dari keluarga salisilat yang sering digunakan sebagai analgesik (terhadap rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi. Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung.

Asal dari obat yang dikenal dengan "Aspirin" - ternyata dari jaman Yunani kuno, dan diperkenalkan oleh Bapak Para Dokter se-dunia - yaitu Hippocrates. Tentu saja Hippocrates tidak menyebut Aspirin, melainkan menyebut tumbuhan bernama willow yang bila batangnya dikeringkan dan dijadikan bubuk, dapat menghilangkan rasa sakit.

Ribuan tahun berlalu, hingga di tahun 1829, para ilmuwan berhasil mengisolasi bahan dalam tumbuhan willow yang berfungsi meredakan rasa sakit. Bahan tersebut bernama salicin. Bahan ini dapat menghilangkan sakit, tapi memiliki efek samping terhadap perut - manfaat dan mudaratnya sama besar. Tentu saja harus ada jalan keluar. Di tahun 1853, seorang ahli kimia Perancis bernama Charles Frederic Gerhardt berhasil menetralkan salicin alami menjadi asam salisilat (salicylic acid) lewat penyanggaan (buffering) dengan natrium dan asam asetat. Asam salisilat ini lebih "ramah" terhadap perut.

Di tahun 1899, seorang ahli kimia Jerman, bernama Felix Hoffmann, yang bekerja bagi Bayer, menemukan kembali formula Gerhardt. Hoffmann membujuk Bayer untuk memasarkan obat itu, yang selanjutnya muncul di pasar dengan nama pasaran "Aspirin".

Aspirin adalah obat pertama yang dipasarkan dalam bentuk tablet. Sebelumnya, obat diperdagangkan dalam bentuk bubuk (puyer). Dalam menyambut Piala Dunia FIFA 2006 di Jerman, replika tablet aspirin raksasa dipajang di Berlin sebagai bagian dari pameran terbuka Deutschland, Land der Ideen ("Jerman, negeri berbagai ide").

Sunday, 4 May 2008

Terima Kasih

Terima kasih sudah menghubungi kami, jika tidak ada halangan kami akan segera membalasnya.

Silahkan klik disini atau klik gambar di bawah untuk kembali ke halaman utama.


Hormat kami,
Cari Obat Untuk Kesehatan